Keerom – Kamis (20/9), berawal dari niat yang kuat untuk membangun Keerom lebih berintegritas, maka atas izin Allah SWT., pada hari Rabu, 19 September 2018 di aula Bupati Kabupaten Keerom dilaksanakan acara pengukuhan pengurus IGI Kabupaten Keerom pertama dengan masa khidmat 2018-2023.
Banyak secercah harapan yang terbesit dalam setiap jiwa yang hadir menyaksikan acara pengukuhan tersebut, yaitu harapan agar Keerom lebih baik lagi dalam dunia pendidikan. Acara yang dihadiri lebih dari 50 tamu tersebut terdiri dari pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Keerom dan para utusan guru ditingkat SD/MI, SMP/MTs., SMA/MA/SMK se Kabupaten Keerom.
Pengurus organisasi profesi guru ini dilantik oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Keerom yaitu Bapak Drs. Blasius Waluyo Sejati, M.M. Dalam sambutannya beliau memberi penegasan agar setiap guru di Keerom harus berkompeten. Beliau juga menyampaikan pesan agar IGI Kabupaten Keerom dapat bersinergi dengan organisasi masyarakat yang ada untuk membangun Keerom lebih berintegritas.
Usai pengukuhan pengurus IGI Kabupaten Keerom, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi workshop SAGUSAKU oleh Bapak Jevery Paat, S.Pd. Workshop yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri oleh kurang lebih 34 orang guru utusan dari masing-masing sekolah yang ada di Keerom berlangsung dengan lancar. Antusias yang cukup tinggi ditunjukkan oleh para guru yang ditugaskan untuk menulis sebuah tulisan. Hal ini terlihat dari keseruan mereka dalam menyampaikan tulisan di depan peserta yang lain.
Pada hari Kamis, 20 September 2018 dilangsungkan acara penutupan yang dihadiri oleh Asisten III Bupati Kabupaten Keerom yaitu Bapak Winoto, M.Pd. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pesan untuk para pengurus IGI Kabupaten Keerom untuk selalu kompak kedepannya dalam membangun Keerom. “Dalam organisasi, jangan pernah mencari hidup di dalam organisasi. Tapi hidupkanlah organisasi tersebut, sehingga akan merasa memiliki organisasi tersebut” tegasnya. Beliau juga menyampaikan kalau bisa bukan hanya SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku), tapi SAGUBAKU (Satu Guru Banyak Buku).
Dengan ditutupnya acara tersebut maka tugas dan amanah baru yang dipikul oleh IGI Kabupaten Keerom semakin nyata di depan mata. Segala rintangan dan hambatan harus bisa dilalui oleh IGI Kabupaten Keerom demi terwujudnya niat suci yaitu membangun Keerom dengan cinta. Kesuksesan ada di depan mata, maka ada dua pilihan yaitu ambil kesempatan itu atau pergi menyia-nyiakannya. Bergerak!, atau hanya akan tinggal nama. Salam sharing, growing, together.
Wike
https://blog.igi.or.id/workshop-sagusaku-dan-pengukuhan-pengurus-igi-kabupaten-keerom-provinsi-papua.html
Banyak secercah harapan yang terbesit dalam setiap jiwa yang hadir menyaksikan acara pengukuhan tersebut, yaitu harapan agar Keerom lebih baik lagi dalam dunia pendidikan. Acara yang dihadiri lebih dari 50 tamu tersebut terdiri dari pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Keerom dan para utusan guru ditingkat SD/MI, SMP/MTs., SMA/MA/SMK se Kabupaten Keerom.
Pengurus organisasi profesi guru ini dilantik oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Keerom yaitu Bapak Drs. Blasius Waluyo Sejati, M.M. Dalam sambutannya beliau memberi penegasan agar setiap guru di Keerom harus berkompeten. Beliau juga menyampaikan pesan agar IGI Kabupaten Keerom dapat bersinergi dengan organisasi masyarakat yang ada untuk membangun Keerom lebih berintegritas.
Usai pengukuhan pengurus IGI Kabupaten Keerom, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi workshop SAGUSAKU oleh Bapak Jevery Paat, S.Pd. Workshop yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri oleh kurang lebih 34 orang guru utusan dari masing-masing sekolah yang ada di Keerom berlangsung dengan lancar. Antusias yang cukup tinggi ditunjukkan oleh para guru yang ditugaskan untuk menulis sebuah tulisan. Hal ini terlihat dari keseruan mereka dalam menyampaikan tulisan di depan peserta yang lain.
Pada hari Kamis, 20 September 2018 dilangsungkan acara penutupan yang dihadiri oleh Asisten III Bupati Kabupaten Keerom yaitu Bapak Winoto, M.Pd. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pesan untuk para pengurus IGI Kabupaten Keerom untuk selalu kompak kedepannya dalam membangun Keerom. “Dalam organisasi, jangan pernah mencari hidup di dalam organisasi. Tapi hidupkanlah organisasi tersebut, sehingga akan merasa memiliki organisasi tersebut” tegasnya. Beliau juga menyampaikan kalau bisa bukan hanya SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku), tapi SAGUBAKU (Satu Guru Banyak Buku).
Dengan ditutupnya acara tersebut maka tugas dan amanah baru yang dipikul oleh IGI Kabupaten Keerom semakin nyata di depan mata. Segala rintangan dan hambatan harus bisa dilalui oleh IGI Kabupaten Keerom demi terwujudnya niat suci yaitu membangun Keerom dengan cinta. Kesuksesan ada di depan mata, maka ada dua pilihan yaitu ambil kesempatan itu atau pergi menyia-nyiakannya. Bergerak!, atau hanya akan tinggal nama. Salam sharing, growing, together.
Wike
https://blog.igi.or.id/workshop-sagusaku-dan-pengukuhan-pengurus-igi-kabupaten-keerom-provinsi-papua.html





Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 24 s/d 25 Agustus 2018 ini di buka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Alpius Toam. Dalam sambutannya, Alpius menyampaikan bahwa dengan menulis guru akan selalu meng-update info-info terbaru dan dengan menulis guru akan mampu meningkatkan kompetensinya.
Kegiatan sosialisi ini dihadiri oleh wakil Bupati Supiori Onesimus Rumere, S.SoS serta Kadisdik Supiori Rafles Ngilamele, S.STP, M,Si. Dalam sambutannya, Rafles sangat mengapresiasi kehadiran IGI dalam membantu pemerintah meningkatkan kompetensi guru di Supiori.
Wakil Bupati Supiori, Onesimus Rumere, S.Sos, juga memberikan sambutan hangat atas terselenggaranya kegiatan ini. Kehadiran IGI menurutnya sangat membantu pemerintah daerah dalam mewujudkan visi misi Supiori “Sehat, Kenyang dan Pintar”. “Sosialisasi yang dilakukan hari ini adalah wujud “Pintar” dan kepedulian pemerintah terhadap pendidikan” paparnya. Ia juga berharap agar IGI bisa menjadi media atas keberadaan Kab. Supiori di dunia luar dengan komitmen kedepan lebih pintar.
Mewakili PP IGI, bu Anchi juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Daerah setempat, khususnya bapak Rafles Ngilamele atas kerjasama dan sambutan yang luar biasa terhadap kehadiran IGI di Supiori.




Direncanakan tanggal 12-13 Juli 2018 kegiatan di SMA ASISI Sentani Jayapura, sedangkan di SMP Muhammadiyah Abepura Jayapura pada tanggal 13-14 Juli 2018. Materi yang dilatihkan adalah materi dari kanal pelatihan Sagudelta (Satu Guru Dua Evaluasi Digital, founder: Khairuddin, S.Pd., M.Pd.) dan Saguwarna (Satu Guru Pewaris Budaya Nasional, founder: Chandra Sri Ubayanti, M.Pd.). Penetapan tanggal ini hasil diskusi panitia daerah agar pada tanggal 13 kedua pelatih dapat saling bertukar posisi hingga tidak ada kekosongan. Jarak kedua sekolah cukup jauh. Ini menjadi pengalaman yang berkesan saat bertukar posisi karena harus berkendara sekitar satu jam melalui jalanan yang berkelok-kelok. Agar tidak terlambat kami berkendara cukup kencang, walhasil tiba di lokasi kegiatan harus menahan rasa pusing dan mual.
Tidak hanya perjalanan menegangkan ini yang menarik. Semangat peserta hingga tidak mau beranjak mengambil konsumsi saat istirahat atau masih tetap bertahan di ruangan meski kegiatan telah ditutup adalah sesuatu sekali. Hampir semua guru peserta menunjukkan antusias yang tinggi dalam mengikuti kegiatan. Kehadiran di hari kedua yang tetap seratus persen bahkan bertambah juga mengindikasikan bahwa para guru sangat haus dengan pengetahuan yang baru terkait dengan perancangan dan penilaian berbasis digital dan budaya lokal. Pelatihan ditutup dengan pelantikan pengurus IGI Wilayah Papua dan IGI Kabupaten Jayapura. Dikukuhkan oleh Pengurus Pusat IGI yang dalam hal ini diwakili kedua narasumber yang juga merupakan pengurus IGI Pusat. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua (Kasubdit. GTK Provinsi Papua) dan Dewan Pakar (STIKES Jayapura) juga menjadi saksi prosesi pelantikan ini.
Tiga hari di Jayapura, IGI masih terus melebarkan sayapnya ke Papua Barat, tepatnya di Kabupaten Sorong. Pelatihan yang sama pada tanggal 15 dan 16 Juli 2018 dilaksakan sekaligus pelantikan dua daerah, yaitu Kota dan Kabupaten Sorong. Jumlah, animo, dan antusiasme peserta baik di Papua maupun di Papua Barat dapat dikatakan memiliki kesamaan. Standar peserta 50 yang ditargetkan ternyata selalu terlampaui. Diminta untuk berhenti istirahat pun enggan beranjak saking asyiknya belajar. Ini sungguh menggembirakan. Menghilangkan rasa lelah kami sebagai narasumber. Padahal tiap peserta perlu menempuh perjalanan cukup jauh dalam dua hari pelatihan.




